Penulis: Steven Saunoah & Rio Afeanpah
Tempat lahir karya: Penfui, Nusa Tenggara Timur
Di sebuah ruang batin yang lahir dari kesunyian Penfui, dua penyair muda — Steven Saunoah dan Rio Afeanpah — menulis perjalanan hidup mereka dalam kumpulan puisi bertajuk Mengeja Detik sampai Pagi. Buku ini bukan sekadar himpunan sajak, tetapi sebuah catatan permenungan eksistensial, tempat waktu, hujan, dan rindu bertemu dalam dialog yang lembut antara manusia, alam, dan Tuhan.
Puisi-puisi di dalamnya mengalir seperti detak waktu yang perlahan — setiap bait adalah detik yang dieja dengan kesadaran mendalam. Dalam karya Steven, seperti “Bertepi untuk Bertemu” dan “Doa dalam Sepi”, tampak kecenderungan spiritual dan kontemplatif; ia mengajak pembaca menatap ke dalam diri, menemukan makna di balik keheningan. Sementara Rio, lewat puisi seperti “Aku Sakau” atau “Catatan Awal November”, menuliskan keresahan sosial dengan nada getir dan jujur, menggugat absurditas moral serta ketimpangan yang ia saksikan di sekitar.
Keduanya berpijak pada realitas yang sama — sebuah tanah yang sunyi, namun penuh cahaya. Hujan, pagi, malam, dan sepi menjadi simbol perjalanan batin: hujan menandakan penjernihan diri; malam melambangkan permenungan; pagi adalah harapan baru; dan sepi menjadi ruang perjumpaan dengan Tuhan. Melalui simbol-simbol itu, keduanya menegaskan bahwa manusia hidup bukan hanya untuk berlari mengejar waktu, melainkan untuk mengeja dan memahami setiap detiknya.

Bahasa yang mereka gunakan sederhana namun berlapis makna. Struktur puisi bebas tanpa rima, namun memiliki ritme batin yang kuat. Diksi-diksi seperti “hujan,” “detik,” “pagi,” dan “sunyi” diulang dalam berbagai variasi, menciptakan nuansa lirikal dan meditatif. Pembaca seakan diajak berjalan di jalan yang basah oleh renungan, di mana setiap langkah adalah pertanyaan, dan setiap pertanyaan berujung pada kesadaran.
Dari keseluruhan karya, tersirat pesan filosofis yang dalam: hidup adalah proses memahami, bukan sekadar menjalani. Di tengah dunia yang bising dan terburu-buru, Mengeja Detik sampai Pagi mengajak kita berhenti sejenak — untuk mendengar detak waktu yang halus, mengenali luka yang diam, dan menemukan Tuhan dalam kesunyian yang paling pribadi.
Karya ini memadukan dua pandangan yang berbeda namun saling melengkapi: Rio yang berpijak pada realitas sosial, dan Steven yang menelusuri dimensi spiritual manusia. Keduanya bertemu dalam satu kesadaran: bahwa manusia, sesakit apa pun hidup ini, selalu bisa menemukan arti dalam tiap detik yang dieja perlahan — hingga pagi menjelang.
Dengan demikian, buku ini bukan hanya dokumentasi puisi, melainkan sebuah perjalanan jiwa. Ia mengajarkan bahwa hujan, rindu, waktu, dan doa bukan sekadar kata, melainkan cara manusia menjaga kesadaran dan tetap menjadi manusia. Mengeja Detik sampai Pagi adalah upaya menulis ulang hubungan manusia dengan hidup — dari kesunyian menuju pemaknaan, dari kegelapan menuju cahaya.

